Umum

Jenis Risiko yang Dapat Terjadi pada Bisnis Fintech

Industri financial technology (fintech) di Indonesia terus berkembang dan memberikan dampak yang besar serta memudahkan masyarakat dalam melakukan berbagai macam transaksi keuangan. Dikutip dari portal berita kontan.co.id, Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menyakini industri fintech masih berpotensi untuk berkembang.

Selain memberikan kemudahan dan kepraktisan dalam transaksi keuangan, hadirnya fintech juga mampu menjangkau dan dapat dinikmati oleh semua kalangan. Meski demikian, dibalik kemudahan layanan transaksi yang dinikmati oleh konsumen, bisnis fintech juga memiliki risiko yang harus diperhatikan. Ini karena bisnis di sektor transaksi keuangan cukup sensitif sehingga para pelaku bisnis meski waspada terhadap risiko yang bisa timbul kapan saja.

Seperti yang dijabarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), bisnis fintech memiliki beberapa risiko. Berikut diantaranya.

Risiko atas cybercrime

Pada bisnis fintech, risiko atas cybercrime merupakan risiko yang memiliki potensi besar dan harus menjadi perhatian perusahaan. Risiko tersebut meliputi penyalahgunaan data klien, penipuan, tanda tangan digital yang dipalsukan, hingga kejahatan dunia maya lain terhadap keamanan data yang rentan perlu diberi atensi.

Risiko gagal bayar

Perusahaan fintech yang bisnisnya sebagai perantara pembiayaan atau kredit, risiko gagal bayar menjadi hal yang cukup mengkhawatirkan. Para pengusaha sendiri harus mengetahui dampak dari risiko ini karena apabila terjadi gagal bayar maka semua ditanggung oleh perusahaan.

Risiko pencucian dana dan aksi terorisme

Risiko ini timbul karena aksi penipuan seperti penggalangan dana untuk amal palsu, menawarkan peluang investasi palsu, dan berbagai penipuan lainnya untuk mengumpulkan dana. Risiko ini cukup besar dan banyak orang yang melakukan transaksi secara online.

Pengelolaan Risiko

Untuk meminimalkan atau menghindari risiko yang dapat menyebabkan kerugian finansial, maka perusahaan fintech memerlukan perlindungan bisnis. Langkah perlindungan yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan identifikasi risiko serta melakukan pengukuran terhadap ketahanan perusahaan dalam mencapai target sasaran strategis guna menghindari terjadinya kerugian.

Perusahaan fintech harus cermat dalam melakukan idenfikasi risiko dan pengelolaannya. Salah satu cara yang dapat dipertimbangkan adalah dengan menggunakan perusahaan broker asuransi dan konsultasi risiko, misalnya Marsh Indonesia. Marsh sudah berpengalaman dalam membantu mengelola risiko ribuan perusahaan di Indonesia termasuk layanan konsultasi risiko keuangan. Melakukan manajemen risiko yang baik dapat meningkatkan nilai perusahaan untuk meminimalkan dampak risiko keuangan yang bisa terjadi  kapan saja.

Related Articles

Close